Tes Bebas Narkoba di BNN Surabaya

 4 Agustus 2020 kemarin aku ingin membuat Surat Keterangan Bebas Narkoba dari BNN.

Sebenarnya tes ini ditujukan sebagai persayaratan proses pendaftaran dari Calon Pegawai Setempat yang diadakan oleh Kementerian Luar Negeri.

Surat Keterangan Bebas Narkoba ini menjadi salah satu yang paling aku takutkan.

Karena sebenarnya dengan mengurus surat keterangan ini kemungkinan besar bahwa aku gak akan lulus.

Alasannya adalah aku mengonsumsi obat yang mengandung unsur psikotropika…

Ah, mungkin akan lebih gampang jika disebut dengan narkoba aja kali ya? Namun kok kedengarannya agak gimana gitu, ah sudah lah narkoba aja.

Aku minum obat yang mengandung narkoba ini juga karena aku mengalami skizofrenia ditambah dengan ada gangguan kecemasan.

Namun obat yang mengandung zat narkoba itu ya obat untuk mengatasi gangguan kecemasanku.

Obat yang aku minum adalah Alprazolam.

Ya, aku sendiri cenderung menganggap bahwa obat ini sebagai obat tidur yang paling efektif untuk aku, karena aku sendiri jadi bisa tidur nyenyak dengan itu.

Kembali lagi ke masalah tesnya, aku sendiri beneran khawatir bahwa aku gak akan lolos tes itu.

Namun ternyata waktu di tes, yang di mana menggunakan alat yang mirip dengan test pack kehamilan, namun ada 6 bagian yang harus dipipisi ini, ternyata keenam-enamnya berhasil mengeluarkan garis.

Walaupun ada satu yang garisnya sangatlah tipis, jika gak teliti lihatnya pasti bakalan ngira bahwa tes tersebut aku positif menggunakan narkoba.

Bagian yang paling tipis ini merupakan benzodiazepine, yang di mana aku dapatkan dari penggunaan Alprazolam.

Yah, aku sendiri merasa begitu lega ternyata aku sendiri berhasil lolos dari tes ini dengan lancar, walaupun deg-degan juga buat ngelihat hasilnya karena memang hasilnya sangatlah tipis.

Dan jujur aja aku sendiri merasa gak nyaman karena lulus dengan garis yang begitu tipis ini yang mungkin bisa saja aku dinyatakan gak lolos dalam tes ini.

Tapi ya sudah lah, aku dinyatakan negatif karena berhasil keluar garis kedua dari test pack itu walaupun tipis sekali kelihatannya.

Oh iya, untuk harga melakukan tes bebas narkoba ini harus membayar Rp 100.000.

Jangan lupa juga untuk fotokopi hasil tesnya dan dilegalisir jika ingin digunakan untuk mendaftar di beberapa instansi.


Fungsi obat-obatanku

Seperti yang dibilang tadi, aku minum Alprazolam.

Alprazolam itu fungsinya untuk mengatasi gangguan kecemasan dengan cara mengendalikan aliran listrik yang ada di otak sehingga orang tersebut akan merasa lebih tenang.

Namun di aku sendiri, obat ini biasa diminum malam hari sebelum aku tidur.

Dan ya memang aku menjadi merasa ngantuk yang gak bisa ditahan, dan akhirnya bisa molor sampai susah untuk dibangunkan.

Ini juga ditambah dengan obat lainnya yang namanya adalah Risperidone.

Obat ini fungsinya untuk “menyembuhkan” aku dari skizofrenia yang aku alami.

Efeknya pun juga sama, aku menjadi tidur dan sulit untuk dibangunkan.

Ini yang membuat aku sendiri menjadi lebih kesulitan untuk bangun pagi.

Waktu awal pengobatan, tahun 2018 itu menjadi tahun yang berat banget buat aku karena aku sendiri harus menghadapi rasa kantuk yang luar biasa hebatnya di siang hari.

Akhirnya setiap jam makan siang, selesai makan siang aku sendiri langsung memilih untuk tidur siang selama kurang lebih setengah jam.

Itu lumayan membantu sekali.

Namun waktu 2019 pertengahan sampai dengan 2020 awal, lebih tepatnya Maret, aku sendiri dapat tempat kerja baru.

Aku ya melakukan hal yang sama setelah makan siang, yaitu tidur siang di kantor, kebetulan juga di kantor yang baru ini malah disediakan kasur, karena gak jarang ada pegawai yang lembur sampai akhirnya menginap di kantor.

Kasurnya juga nyaman, jadi aku bisa tidur dengan nyaman di sana.

Namun sayangnya aku harus berhenti kerja di sana karena adanya wabah corona.

Ya aku sendiri sedih sekali waktu itu, namun ya gak apa lah, mungkin memang itu yang terbaik buat aku, karena saking seringnya aku lembur akhirnya aku sampai harus dirawat di rumah sakit, diberi suntikan karena aku panas tinggi sekaligus flu berat.

Waktu itu masih bulan Januari corona juga masih trending di China aja, namun aku juga ditanyai apa aku dari China sebelumnya, kan ya agak insecure aja gitu rasanya.

Total biaya yang harus aku bayarkan waktu itu jauh lebih mahal dibandingkan dengan uang lembur yang aku terima.

Jadi ya gajiku cuma untuk membiayai aku berobat aja…

Kesel aja gitu rasanya kalau harus ingat kejadian itu, tapi ya sudah lah, sudah berlalu juga.

Oh iya, kenapa aku jadi ngelantur kemana-mana sih.


Tentang Alprazolam

Alprazolam ini memiliki sifat benzodiazepine.

Obat yang bersifat benzodiazepine sendiri lebih sering digunakan untuk mengatasi gejala gangguan psikologi seperti gangguan kecemasan (anxiety disorder) dan insomnia.

Obat ini harus ditebus dengan resep dokter, karena memang dalam penggunaannya sendiri harus diawasi oleh dokter.

Karena obat ini dapat menimbulkan efek ketergantungan, sehingga penggunaannya harus hati-hati sekali.

Aku juga diberitahu psikiaterku kalau nanti aku sudah waktunya untuk berhenti minum Alprazolam nanti akan dikurangi dosisnya perlahan, sehingga nanti bisa bebas dari obatt lagi.

Karena pernah terjadi ketika aku kehabisan stok obat sementara waktu kontrol lagi juga masih ada 4-5 hari lagi kalau gak salah, ternyata selama beberapa hari itu aku gak bisa tidur sama sekali.

Itu kejadiannya di Juni 2020 pokoknya.

Aku cuma bisa merem sambil merilekskan badanku aja, sementara untuk bisa tidur sendiri sama sekali gak bisa.

Aku juga sudah coba buat minum Lelap, obat tidur yang dibuat secara herbal dan bisa dibeli di apotek, ternyata aku juga masih gak bisa tidur sama sekali, padahal sudah nunggu sampai 2 jam, ternyata akunya masih belum bisa tidur.

Menjengkelkan sekali rasanya ketika gak bisa tidur.

Padahal lampu juga sudah dimatikan, gak ada suara sama sekali yang mengganggu, bahkan untuk mendukung gak ada suara yang gangguin aku, aku sampai bela-belain pakai earphone yang bentuknya in-ear.

Itu lo, earphone yang bentuknya masuk ke telinga, mungkin aku tampilkan aja gambarnya kali ya supaya lebih jelas.

Earphone itu cukup kedap dari suara luar, apalagi kalau ditambah sambil mendengarkan musik, dijamin kesulitan buat dengar suara apapun yang berasal dari luar earphone.

Ya tapi dikasus aku gak bisa tidur waktu itu aku ya sama sekali gak dengerin musik, karena aku gak terlalu bisa untuk tidur di suara yang berisik.

Udah coba juga lagu-lagu yang relaxing, lagu-lagu instrumen lembut yang bisa bikin kita jadi lebih tenang, semuanya aku coba yang ada di spotify, ternyata sama sekali gak bisa bantu aku supaya bisa tidur.

Aku aslinya ya sudah di tahap gangguan emosi, namun aku tahan aja, aku gak mau orang-orang yang ada di sekitarku menjadi gak nyaman dengan perilakuku yang marah-marah gak jelas.

Di siang harinya selama aku gak bisa tidur itu aku gak berusaha untuk tidur juga, karena ya rasanya percuma juga, banyak suara-suara yang menggangguku.

Seperti suara kendaraan lewat, suara TV, atau mungkin suara anggota keluargaku sedang nontonin Youtube.

Iya menjengkelkan sekali, siksaan yang benar-benar nyata untukku.

Sementara waktu itu aku sendiri juga beruntungnya belum bekerja juga, cuma mengurusi blog pribadiku aja.

Namun dengan kondisi aku gak bisa tidur itu aku jadi gak bisa riset untuk konten apa yang nantinya akan diterbitkan di blogku.

Jadinya aku gak menerbitkan artikel apapun di blogku, padahal aku juga memiliki stok beberapa artikel yang bisa aku bagikan sementara aku gak bisa nulis.

Namun rasanya sayang sekali gitu untuk menerbitkan artikelnya lagi, takut nanti gak bisa bikin stok lagi akunya.


Kata Tanteku

Mungkin sekitar satu atau mungkin dua bulan sebelum kejadian aku kehabisan obat itu, aku sempat bilang sesuatu ke aku dan ibuku, kalau seharusnya aku gak minum obat, kalaupun gak bisa tidur ya udah dinikmati aja sampai nanti aku bisa tidur sendiri dengan normal.

Padahal aku sendiri ngerasa bahwa aku sendiri gangguan emosi karena itu, aku sendiri berusaha lebih sabar menjadi dalam menghadapi apapun yang aku rasa salah, termasuk dengan suara berisik yang ditimbulkan ibu, kakak, dan orang-orang yang lewat di sekitar rumahku.

Aku sendiri pun juga merasa daya tahan tubuhku menurun, itu membuatku juga berpikir lagi untuk jalan-jalan keluar rumah untuk membuat tubuhku menjadi lebih lelah lagi.

Iya kalau Cuma dapat lelah aja, kalau misal dapet kuman ataupun virus yang nantinya bikin aku jadi tambah sakit gimana?

Pakai kondisinya pada saat artikel ini ditulis juga Covid-19 juga sedang menggila, sehingga sangat berisiko sekali untuk aku berkeliaran di luar.

Aku akhirnya cuma di rumah aja sambil berusaha untuk tidur yang di mana itu juga gak mungkin, karena sama sekali gak ada sinyal kalau otakku lelah, jadi aku ya gak bisa melakukan apapun juga untuk bisa tidur.

Untungnya aja aku masih bisa seenggaknya menjaga mata dengan posisi merem berjam-jam, selain itu juga aku bisa merilekskan badanku sendiri, jadi lumayan bisa nyimpen tenaga juga walaupun tetap aja gak bisa nggantiin tidur yang sebenarnya.

Gak tahu juga ya gimana reaksinya Tanteku kalau misal tahu aku harus berjuang berhari-hari tanpa tidur kayak gitu, karena emang sama sekali beliau belum tahu aku pernah ngalamin hal yang se nggak enak itu.

Pastinya aku bakal kesel banget sih kalau misalnya aku harus bertahan gak tidur jauh lebih lama lagi, orang aku aja udha jadi gak bisa produktif selama gak bisa tidur itu, mau ngapa-ngapain gak ada tenaga juga.

Ah aku jadi cerita kepanjangan lagi, padahal inti ceritanya cuma sedikit, tapi ya udah lah gak apa, itung-itung nambahi jumlah kata di dalam artikel ini.

Kan yang penting masih menceritakan apa yang terkait dengan zat narkotika yang aku konsumsi aja lah.

Terima kasih sudah mau membaca curhatanku ini.


0 komentar

Posting Komentar